Kecemasan Peneliti UB Usai Temukan Mikroplastik Hingga DAS Brantas, Desak Mitigasi


Jakarta

Skuat Studi Peneliti Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) Universitas Brawijaya (UB) menemukan mikroplastik Hingga Sungai Metro (Malang) dan Lokasi Aliran Sungai (DAS) Brantas. Penemuan ini dinilai Menunjukkan pencemaran plastik telah Karena Itu masalah serius yang menjalar Hingga ekosistem air tawar.

“Tidak hanya Studi hari ini, kami juga telah mengidentifikasi keberadaan mikroplastik Hingga hampir semua ekosistem perairan yang kami teliti. Ini mengindikasikan mikroplastik telah menjadi emerging pollutant,” katanya, dikutip Di laman UB.

Ketua Skuat Studi Mikroplastik PSPK UB, Prof Andi Kurniawan mendesak agar pemerintah Memperbaiki pola mitigasi Untuk menekan kandungan mikroplastik. Pasalnya, partikel tersebut sudah masuk Hingga rantai Konsumsi dan berisiko mengganggu Kesejaganan Kelompok.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah Serius Hingga Ekosistem

Studi tersebut Setelahnya Itu diperluas Hingga berbagai lokasi strategis yang merepresentasikan aliran Sungai Brantas Di hulu hingga pesisir. Skuat peneliti melakukan kajian Hingga mata air Brantas sebagai Area hulu.

Lanjutnya, Skuat melanjutkan Studi Hingga Dibagian Ditengah sungai hingga muara Brantas. Studi juga mencakup kawasan perairan pesisir, seperti Pulau Lusi dan Sendang Biru.

Peneliti menemukan jumlah mikroplastik bervariasi Hingga setiap lokasi dan dipengaruhi Dari waktu. Hingga aliran sungai, rata-rata mikroplastik yang ditemukan berkisar Antara 2 hingga 8 partikel per liter.

Tetapi, jumlah tersebut Meresahkan signifikan Hingga Area pesisir. Skuat Studi mencatat, konsentrasi tertinggi mikroplastik mencapai 40 partikel per liter Hingga Lokasi pantai.

“Jumlah tertinggi yang kami temukan Di studi kami mencapai 40 partikel per liter Hingga Area pesisir atau pantai,” kata Kurniawan.

“Lokasi-lokasi tersebut memang hanya sebagian Di banyak titik Studi yang telah kami lakukan. Tetapi, temuan ini cukup Untuk Menunjukkan bahwa mikroplastik telah tersebar Hingga seluruh rantai ekosistem perairan, Di sumber mata air hingga laut, Agar urgensi mitigasi Di pemerintah Lebih mendesak,” lanjutnya.

Perlunya Standar dan Perlindungan Konsumen

Kurniawan menambahkan tanpa adanya standar baku mutu, pencemaran mikroplastik Berencana sulit dikendalikan. Karena Itu, langkah awal yang dinilai penting adalah memperkuat perlindungan konsumen.

“Yang pasti melakukan perlindungan konsumen, misalnya mengecek standar botol air kemasan atau air yang dikonsumsi Kelompok. Itu perlu recheck, Agar meminimalkan keberadaan mikroplastik,” jelasnya.

Hingga Di Itu, pengawasan Di kelestarian lingkungan juga dinilai krusial, terutama Untuk mencegah masuknya bahan tercemar Melewati aliran sungai.

“Karena Itu, regulasi yang harus diusung, melengkapi regulasi perlindungan air dan lingkungan yang sudah ada, termasuk menata regulasi Untuk melindungi hewan ataupun manusia,” katanya.

Dorongan Studi Mikroplastik

Kurniawan juga Mendorong pemerintah, termasuk Kementerian Kesejaganan, Untuk menstimulasi Studi yang mengaitkan mikroplastik Didalam Kesejaganan. Hal ini penting sebagai langkah peringatan dini, Walaupun Organisasi Kesejaganan Dunia (WHO) belum menetapkan baku mutu mikroplastik.

Sebagai ketua Skuat Studi PSPK UB, Kurniawan juga mengintegrasikan kajian mikroplastik Didalam bidang keahliannya, yakni ekologi mikroba, khususnya biofilm. Biofilm diketahui Berpotensi Untuk menjadi biosorben alami yang mampu mengikat mikroplastik.

Potensi tersebut membuka Potensi Pembuatan Keahlian eko-akuatik Untuk mitigasi pencemaran sungai dan pesisir. PSPK UB berharap Indonesia dapat berperan sebagai rujukan internasional Di upaya mitigasi pencemaran mikroplastik.

(nah/nah)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Kecemasan Peneliti UB Usai Temukan Mikroplastik Hingga DAS Brantas, Desak Mitigasi

พัฒนาทักษะการเล่นของคุณไปกับ PG SLOT เพื่อเรียนรู้ฟีเจอร์ใหม่ๆ ก่อนใครได้แล้ววันนี้