NUS Buka PhD Bunyi yang Gabungkan Praktik dan Kajian, Disebut Pertama Di Asia



Jakarta

National University of Singapore Mutakhir saja membuka Langkah PhD bidang Bunyi. Langkah ini disebut sebagai prodi PhD Bunyi pertama Di Asia yang integrasikan praktik artistik dan Kajian.

Prodi tersebut bernama PhD Music Practices Di Yong Siew Toh Conservatory of Music (YST) NUS. Dikatakan Untuk laman resmi NUS, mahasiswa yang mengejar Langkah doktor ini Berencana Memperoleh akses Di sumber daya yang lebih luas daripada yang biasanya tersedia Di konservatori Bunyi lain.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswa Bisa Lakukan Proyek Lintas Disiplin

Mahasiswa berkesempatan Sebagai mengikuti perkuliahan dan memulai proyek yang bersinggungan Bersama bidang-bidang yang berdekatan maupun kontras seperti ilmu Pc, Kesejaganan Kelompok, hukum, Usaha, ilmu sosial, dan banyak lagi.

Berbeda Bersama kebanyakan Langkah PhD internasional yang murni berbasis praktik atau Kajian, Langkah PhD Music Practices menekankan kombinasi Di analisis ilmiah dan keahlian artistik. Langkah ini ditujukan Untuk para praktisi Bunyi terkemuka Bersama kemampuan artistik dan akademis yang kuat, yang ingin melakukan Kajian yang menantang paradigma dan mempelopori praktik Bunyi Mutakhir.

“Langkah PhD ini merepresentasikan perubahan penting Untuk cara kita memahami dan menghargai karya Seni Adat Istiadat Di dunia akademis. Untuk Langkah ini, praktik Seni Adat Istiadat bukan sekadar komponen Kajian; Langkah ini berdiri berdampingan dan berdialog dengannya,” jelas Dekan YST, Profesor Peter Tornquist.

“Hal ini membuka Kemungkinan Mutakhir Untuk mahasiswa Sebagai berkreasi dan merefleksikan karya mereka Lewat berpikir dan bertindak, berkontribusi Di pengetahuan dan karya Seni Adat Istiadat Mutakhir secara terintegrasi dan interdisipliner,” imbuhnya.

Menurutnya pendekatan semacam itu menurut NUS memungkinkan karya kreatif dan analisis ilmiah tidak hanya Untuk Bunyi, tetapi juga Untuk interseksi Bersama bidang lain seperti Keahlian, Usaha, atau Justru Kesejaganan Kelompok.

“Seorang komposer dapat bereksperimen Bersama kecerdasan buatan Untuk komposisi Bunyi sambil meneliti implikasi etisnya Di kepenulisan kreatif; seorang penampil dapat Mengejar pelestarian dan reinterpretasi Kearifan Lokal Bunyi sambil menciptakan karya-karya Mutakhir yang terinspirasi olehnya; atau seorang konduktor dapat memimpin pertunjukan berbasis komunitas sambil Mengejar bagaimana Aturan Kearifan Lokal Global dapat memengaruhi penonton Di Di komunitas lokal,” beber Prof Tornquist.

Mahasiswa juga dapat memperoleh manfaat Bersama sumber daya dan kemitraan YST yang luas Untuk industri Bunyi Dunia, termasuk keanggotaan Di beberapa jaringan Belajar tinggi Bunyi seperti ConNext Network, Pacific Alliance of Music Schools, Southeast Asian Directors of Music Association, Association of European Conservatoires, dan lembaga-lembaga International Benchmarking Exercise.

Ujian Preliminary, mata kuliah komprehensif, dan tesis doktoral merupakan persyaratan umum Sebagai Langkah PhD berbasis Kajian Di NUS dan institusi lainnya. Tetapi, Langkah ini juga mencakup komponen artistik Di mana mahasiswa diwajibkan Sebagai mempresentasikan karya Seni Adat Istiadat yang berkaitan erat Bersama Kajian mereka. Ini Berencana Menunjukkan kemampuan mereka Untuk mengintegrasikan praktik Bunyi dan inkuiri akademis.

(nah/nwk)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: NUS Buka PhD Bunyi yang Gabungkan Praktik dan Kajian, Disebut Pertama Di Asia