Langkah Trump Pada Harvard Picu Kekhawatiran Kampus-kampus AS



Jakarta

Langkah Pemimpin Negara Amerika Serikat (AS) Donald Trump Sebagai menghentikan penerimaan mahasiswa internasional Ke Harvard University menimbulkan kekhawatiran serius Ke kalangan Pembelajaran tinggi Amerika Serikat.

Pejabat kampus Ke berbagai Negeri Pada mencemaskan Keputusan tersebut bisa menjadi preseden Untuk intervensi serupa Ke universitas lain. “Jika ini bisa terjadi Ke Harvard, bukankah bisa juga terjadi Ke tempat lain?” demikian kekhawatiran yang mengemuka Ke kalangan pimpinan perguruan tinggi.

Pemimpin Negara Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sally Kornbluth, Berkata keprihatinan mendalam atas keputusan pemerintah tersebut.


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk pernyataan resminya kepada komunitas kampus, Kornbluth menyebut langkah tersebut sebagai “pukulan Pada Kepentingan, keterbukaan, dan semangat Pembaharuan Amerika.”Ini adalah momen yang serius,” tulis Kornbluth Untuk surat terbuka yang ditujukan khusus kepada mahasiswa internasional.

Ia menegaskan keberadaan mahasiswa Untuk luar negeri merupakan Pada tak terpisahkan Untuk identitas dan Kepentingan MIT. “MIT tidak Berencana menjadi MIT tanpa kalian,” tulisnya Ke laman resmi kampus MIT yang dikutip detikEdu, Sabtu (24/5/2025).

Sambil Pemimpin Negara University of Hawaii, Wendy Hensel mengungkapkan langkah Trump Ke Harvard merupakan sebuah eskalasi yang belum pernah terjadi Sebelumnya Itu. “Mengguncang dunia Pembelajaran tinggi secara luas,” tulisnya seperti dikutip detikedu Untuk laman resmi kampus tersebut.

Hakim Federal Tangguhkan Keputusan Pemimpin Negara Trump

Pemerintahan AS Melewati Pejabat Tingginegara Perlindungan Untuk Negeri AS Kristi Noem Berkata sertifikasi Inisiatif Pengunjung Pertukaran dan Mahasiswa Harvard University dicabut dan berlaku langsung. Imbasnya, Harvard tidak lagi dapat mensponsori visa F dan J Untuk mahasiswa maupun ilmuwan internasional Sebagai tahun akademik 2025/2026.

Surat ini dilayangkan Ke Kamis (22/5/2025) usai Harvard menolak mematuhi Pemerintah AS yang meminta penyerahan rekam catatan Yang Terkait Didalam mahasiswa internasional Ke kampusnya.

Pemimpin Negara Harvard University, Alan M Garber Berkata pihaknya menolak perintah tersebut Sebagai menjaga independensi akademis dan tidak tunduk Ke tindakan ilegal pemerintah federal AS yang Berusaha mengendalikan kurikulum, fakultas, dan badan mahasiswa Harvard.

“Kami mengutuk tindakan yang melanggar hukum dan tidak beralasan ini. Tindakan ini membahayakan masa Didepan ribuan mahasiswa dan cendekiawan Ke Harvard dan menjadi peringatan Untuk banyak orang lain Ke perguruan tinggi dan universitas Ke seluruh negeri yang datang Di Amerika Sebagai mengejar Pembelajaran dan mewujudkan impian mereka,” ucapnya Ke warga kampus Melewati pesan tertulis Ke laman Harvard, Jumat (23/5/2025).

Garber mengatakan pihaknya juga telah menyampaikan mosi perintah penahanan Sambil atas perintah pemerintahan Trump Yang Terkait Didalam pemblokiran mahasiswa dan ilmuwan internasional Ke kampusnya.

Mosi tersebut Berkata tindakan pemerintahan Trump itulah adalah pembalasan yang tidak ditutup-tutupi; tindakan eksekutif sewenang-wenang, tidak rasional, dan sepihak.

Ke hari yang sama, hakim federal US District Judge Alison D Burroughs mengabulkan permohonan Harvard University. Pihak Lembaga Proses Hukum Mengintroduksi perintah penahanan Sambil yang memblokir pemerintahan Trump Sebagai mencabut wewenang Harvard Memperoleh mahasiswa dan ilmuwan internasional.

Putusan hakim Burrough Berkata mencegah pemerintah AS Sebagai “menerapkan, melembagakan, mempertahankan, atau memberlakukan” pencabutan wewenang Harvard Sebagai mensponsori visa Untuk mahasiswa dan ilmuwan internasionalnya.

Dikutip Untuk Harvard Gazette, Garber mengatakan sidang dijadwalkan Ke Kamis mendatang Sebagai menentukan apakah perintah penahanan ini Berencana diperpanjang.

“Dampak (pencabutan Penyandangdana mahasiswa-ilmuwan internasional) Untuk mahasiswa Harvard – semua mahasiswanya – Berencana sangat menghancurkan. Tanpa mahasiswa internasionalnya, Harvard bukanlah Harvard,” tulis pihak kampus Sebelumnya Itu Ke mosi.

Mahasiswa internasional Harvard berasal Untuk lebih 140 Negeri, termasuk Indonesia. Jumlah mahasiswa internasional meliputi seperempat Untuk total jumlah mahasiswa Ke Harvard. Jika Harvard tidak dapat mensponsori visa, para mahasiswa dan ilmuwan internasional harus pindah Di institusi lain Sebagai mempertahankan status visa mereka.

Epidemiolog Scott Delaney Untuk Harvard Chan School mengatakan tindakan pemerintahan Trump mengancam sumber kebanggaan bangsanya sendiri. Ia berpendapat, AS dapat menjadi pemimpin Internasional Eksperimen ilmu Kesejajaran Lantaran peneliti terbaik Untuk berbagai Negeri datang Di Harvard sebagai mahasiswa, lalu tinggal dan berkarier Ke sana.

Delaney sendiri bekerja Didalam mahasiswa dan peneliti pascadoktoral Untuk setidaknya 5 Negeri berbeda. Mereka meneliti cara mendukung kehidupan warga AS yang terkena Penyakit Alzheimer.

“Jika kita mengusir mereka hanya Lantaran mereka lahir Ke tempat lain – seperti yang coba dilakukan pemerintahan Trump – maka Regu saya tidak Berencana menghasilkan banyak Eksperimen berdampak tinggi, dan AS Berencana kehilangan wawasan dan kontribusi mereka. Semua peneliti kelas dunia ini Berencana membawa bakat mereka Di tempat lain,” ucapnya.

(pal/pal)

Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Langkah Trump Pada Harvard Picu Kekhawatiran Kampus-kampus AS