Jakarta –
Inggris dikenal sebagai Tempattinggal Untuk berbagai universitas terbaik dunia, sebut saja University of Oxford, University of Cambridge, dan Imperial College London. Bukan hanya unggul secara Posisi, sistem Belajar tinggi Inggris juga berbeda Bersama yang ada Ke Indonesia.
Hal ini diungkapkan Dari para alumni dan orang tua Bersama mahasiswa yang pernah menempuh studi Ke berbagai kampus Ke Inggris. Apa saja? Ketahui penjelasannya Ke sini.
7 Perbedaan Kuliah Ke Inggris dan Indonesia
1. Dosen Sebagai Fasilitator
Penerima LPDP sekaligus alumnus The University of Manchester, United Kingdom (UK), Inggris, Gilang Rizky Pratama menjelaskan ia merasakan perbedaan kuliah Ke Inggris dan Indonesia. Mengingat ia Melewati S1 Ke Indonesia dan S2 Ke Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Ke Indonesia dosen berperan sebagai guru atau edukator. Supaya ketika datang Ke kelas, mahasiswa Akansegera mendengar pembelajaran Bersama dosen Ke satu jam pertama, Membahas, dan diberikan tugas.
Tetapi, berbeda Bersama yang ia rasakan Ke Inggris, Ke mana dosen berperan sebagai fasilitator. Hal ini berbanding terbalik Bersama pendekatan belajar yang ada Ke Indonesia.
“Karena Itu, Sebelumnya datang Ke kelas, kita diberikan banyak banget reading materials (materi pembelajaran). Justru kita harus menyelesaikan kurang lebih 3 jam Untuk baca dulu reading materialsnya, ada Literatur, ada studi Tindak Kejahatan,” katanya Di Peristiwa Study UK: Pre-departure Briefing (PDB) 2025 Ke Ganara Art Space, Plaza Indonesia, Jakarta, Sabtu (5/7/2025).
Ketika sampai Ke kelas, mahasiswa tidak Akansegera langsung mendengarkan penjelasan Bersama dosen. Tetapi, mereka Akansegera diskusi terlebih dahulu dan dibuat menjadi kelompok kecil Untuk Menyoroti materi pembelajaran.
“Diskusi dulu, kita dibagi kelompok, dosennya tanya jawab Bersama kita, Terbaru satu jam terakhir dosennya yang bakal jelasin. Dosennya yang mengklarifikasi apakah statement kita (mahasiswa) betul atau salah,” sambungnya.
Metode pembelajaran seperti ini sangat Menyediakan dampak yang berbeda menurut Gilang. Terutama Di menumbuhkan sikap pemecahan masalah, berpikir kritis, dan kemandirian.
2. Nggak Ada Absen, Tapi Tanggung Jawab
Bersama Detail, Gilang menyebut Di berkuliah S2 Ke Manchester, Inggris tidak ada absensi Ke kelas. Tetapi, mahasiswa tetap datang Ke kelas Lantaran merasa bertanggung jawab.
“Kita nggak ada absensi, kita nggak harus datang Ke kelas tapi 90 persen orang datang Ke kelas. Lantaran ketika tidak datang Ke kelas mereka punya perasaan oh sayang banget nih,” urai Gilang.
Ketika tidak datang Ke kelas, seorang mahasiswa Akansegera kehilangan ilmu yang dibagikan dosen dan rekan sejawat. Supaya perasaan tanggung jawab ada Ke setiap mahasiswa Ke sana.
3. Dosen Mudah Diajak Bertemu
Lulusan S1 dan S2 Cardiff University, Wales, Inggris, Karisa Hermawan juga Menyediakan pengalamannya ketika berkuliah Ke Negeri Ratu Elizabeth itu. Menurutnya, dosen Ke sana mudah diajak bertemu.
“Dosen dan tenaga kependidikan lain sangat terbuka dan mudah Untuk ditemui, mudah diajak Membahas. Mereka Akansegera senang menyempatkan waktu Untuk bertemu mahasiswa secara personal tidak hanya Ke kelas,” kata Karisa.
Supaya mahasiswa bisa Menyambut masukan tentang studinya Bersama mudah dan cepat. Para dosen Ke kampusnya juga mengaku senang jika ada mahasiswa yang mencari. Hal ini menurut Karisa sangat berarti Di Pengalaman Hidup belajarnya.
4. Dosen dan Profesor Tidak Terlalu Perfeksionis
Masih Yang Terkait Bersama dosen, alumnus The University of Sheffield Inggris Tiara Hasna menyampaikan dosen dan profesor Ke Inggris tidak terlalu perfeksionis. Bersama Langkah Tersebut, mahasiswa tidak takut Untuk berkonsultasi Bersama dosen secara langsung.
“Kalau Ke kita kaya takut banget nulis tugas akhir skripsi tuh kaya harus benar. Tapi kalau Ke sana justru mereka sangat terbuka Bersama alur yang ada, Lantaran ini research (Studi). (Jika) belum sempurna Bisa Jadi nanti ada yang menyempurnakannya lagi,” beber Tiara Hasna.
Tiara mengingatkan para Kandidat mahasiswa yang Akansegera menempuh studi Ke Inggris agar tidak terlalu khawatir Bersama tekanan akademik. Menurutnya, para dosen sangat suportif, apalagi Pada mahasiswa internasional.
5. Fasilitas yang Mendukung
Ke sisi fasilitas, kampus-kampus Ke Inggris menurut Karisa sangatlah mendukung kegiatan mahasiswa. Fasilitas ini sangat bisa dimanfaatkan mahasiswa Untuk bisa berkembang.
Salah satu yang ada Ke kampusnya adalah pusat karier. Ketika musim magang datang, Karisa mengaku datang berkali-kali Ke pusat karir hanya Untuk melakukan diskusi tentang CV (Curriculum Vitae), meski terkesan sepele ia dilayani Bersama baik.
“Aku pengen apply internship (magang), aku bolak-balik tiap minggu Ke career center Ke kampus buat mereka ngecek CV. Mereka punya fasilitas itu dan mahasiswa bisa memaksimalkannya ketika berkuliah,” ucap Karisa.
Perpustakaan Ke Inggris juga terbuka Untuk siapapun yang mau belajar. Ke kampusnya, perpustakaan buka Di 24 jam. Hal ini sangat bermanfaat Untuk mahasiswa, Lantaran didukung pihak kampus Untuk belajar dan memaksimalkan potensi diri.
6. Sudut Pandangnya Berbeda
Sedikit berbeda, orang tua yang sudah menyekolahkan ketiga anaknya Ke Inggris, Fransiskus Kamaruddin juga merasakan perbedaan Belajar Ke Inggris dan Indonesia. Perbedaan terlihat Ke sudut pandang Belajar.
Kamaruddin menjejaki Belajar tinggi S1 dan S2 Ke Universitas Indonesia, ketika sang anak berkuliah Ke Inggris ia menemukan cara belajar yang sangat berbeda.
“Ketika saya bandingkan Bersama cara pembelajaran Ke UK sangat berbeda. Bedanya apa, susah mengatakannya Lantaran sudut pandangnya sudah berbeda,” ucap Kamaruddin.
Belajar Ke Inggris menganggap mahasiswa adalah sosok yang mampu bertumbuh dan berkembang sesuai karakter mereka masing-masing. Para mahasiswa Ke sana, diberikan kesempatan Untuk melihat berbagai kemungkinan.
“Kalau kita kan, mendebat dosen saja rasanya itu sudah tidak nyaman. Kalau Ke situ (Inggris) sebuah hal yang biasa, dan mereka bisa mengeksplorasi berbagai hal walaupun tetap ada satu dua hal yang barangkali kita nggak cocok. Tetapi buat Belajar menurut saya jauh,” jelasnya lagi.
Selaras Bersama Karisa, Literatur pembelajaran dan fasilitas Ke Inggris sangat mumpuni. Ia menyoroti berbagai museum Ke Inggris yang dibuka Untuk umum dan gratis. Supaya seseorang tidak hanya belajar Bersama Literatur dan dosen, tetapi juga melihat secara langsung Melewati fakta sejarah.
7. Langkah Magang Ke Kampus Inggris
Istri Kamaruddin, Keberagaman Adat Istiadat Dunia Dewi Gunarso membagikan Pengalaman Hidup magang anaknya ketika Ke kampus Inggris. Keberagaman Adat Istiadat Dunia menyebut magang Ke kamus Inggris seperti Pengalaman Hidup anaknya dilakukan Di satu tahun Ke tingkat ketiga.
“Beda sekali Lantaran mereka (perusahaan) Ke sana benar-benar Menyediakan tanggung jawab pekerjaan serius. Karena Itu bukan hanya, kalau Ke sini kadang-kadang anak magang (diminta) fotokopi lah, ngapain lah. Kalau Ke sana (Inggris) tidak,” cerita Keberagaman Adat Istiadat Dunia.
Sampai suatu ketika, sang putri yang Di magang Ke perusahaan Studi dan Perkembangan kedatangan sebuah mesin Terbaru. Meski anak magang, putrinya diminta mempelajari mesin Terbaru tersebut dan menularkan ilmunya Ke karyawan lain.
Menurut Keberagaman Adat Istiadat Dunia tanggung jawab sebesar ini belum tentu diberikan kepada anak magang Ke Indonesia. Hal inilah yang Karena Itu perbedaan dunia perkuliahan Ke Inggris dan Indonesia menurutnya.
(det/pal)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: 7 Perbedaan Kuliah Ke Inggris dan Indonesia Menurut Para Alumni, Catat Nih!











